Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Perbandingan’ Category

“All can wait unless Agriculture.” (Jawaharlal Nehru)

Kalimat yang bijak tersebut mengingatkan kembali bahwa sebenarnya pertanian itu sangat penting bagi setiap negara sehingga sudah seharusnya pula pertanian mendapat perhatian yang lebih besar. Negara yang telah mantap dalam bidang pertanian akan lebih mudah mengembangkan sektor-sektor lain seperti perindustrian, perdagangan, pertambangan, dan lain sebagainya.

Korea tidak main-main dengan perkembangan pertaniannya. Semua hal yang sekiranya
dapat membantu perkembangannya akan dilaksanakan. Kebijakan-kebijakan dan program-program yang berpihak pada perkembangan pertanian telah dilaksanakan antaranya pemberian asuransi pertanian, adanya bank pertanian, program Green Tourism, Tourist Agricultural Parks, dan sebagainya.

Asuransi pertanian mungkin masih asing di Indonesia khususnya di kalangan petani. Namun hal itu telah diterapkan oleh Korea meski hanya beberapa komoditas tertentu yaitu apel dan pear. Asuransi ini diberikan ketika terjadi kerusakan pada produk pertanian yang disebakan bencana alam. Petani tentu tidak akan mengalami kerugian yang besar apabila terjadi bencana alam yang mengakibatkan gagal panen. Keadaan yang jauh berbeda dengan petani Indonesia. Apabila terjadi gagal panen akibat bencana alam mereka hanya bisa meratapi karena kerugian yang besar telah tampak di didepan mata.

Selain itu keberadaan National Agricultural Cooperative Federation dan National Agricultural Livestock Federation sebagai bank pertanian membantu memberikan kredit pertanian dengan tingkat suku bunga 3-8% pada petani individual, kelompok, maupun koperasi. Bank Pertanian di Korea sebagai excuting agent bukannya channeling agent seperti halnya bank di Indonesia. Hingga saat ini belum ada bank di Indonesia yang mengkhususkan bergerak dalam bidang pertanian padahal Indonesia dikenal sebagai negara agraris.

Ditambah pula adanya program yang menyajikan pertanian sebagai komoditas wisata dengan programnya Green Tourism dan Tourist Agricultural Parks. Berbeda dengan Indonesia yang masih memprioritaskan pariwisatanya dengan kebudayaan dan pembangunannya. tentu saja bila Indonesia melirik pertanian sebagai komoditas wisata tentulah banyak tempat yang tersebar dari Sabang sampai Merauke yang sesuai.

Program Tourist Agricultural Parks ini telah dilaksanakan sejak tahun 1980-an. kedua program ini serupa tapi tidak sama. Bila Tourist Agricultural Parks lebih beroperasi pada basis individu maka Green Tourism lebih berskala luas. Contohnya pada desa Gyodong yang telah menerapkan beberapa program seperti pemanenan produk pertanian (kentang), membuat tofu. membuat meju (kacang kedelai yang difermentasikan), membuat layang-layang, dan mengunjungi istana Goongye, dan masih banyak lagi. Setidaknya ada 60 tempat yang dapat dinikmati yang tersebar di propinsi Gyonggi-do (6 tempat), Gangwon-do (6 tempat), South Chungcheong-do (4 tempat) dan lain sebagainya.

Beberapa kebijakan dan program di atas telah cukup memperlihatkan bahwa Korea memang memperhatikan perkembangan pertaniannya. Hal ini sangtlah berbeda dengan Indonesia yang justru dikenal sebagai negara agraris namun masih menomorduakan pertanian. Sebenarnya dalam Garis-Garis Besar Halauan Negara (GBHN) komitmen terhadap pertanian sangat tinggi namun ketika di lapangan sangat memprihatinkan. Selain itu tiada keterkaitan antarinstansi makin memperburuk perkembangan pertanian di Indonesia yang akhirnya berakibat pada petani.

Sudah sepatutnya Indonesia belajar tentang perkembangan pertanian di Korea. Adanya bank pertanian yang didukung dengan asuransi pertanian ditambah pula program wisata berbasis pertanian membuat pertanian Korea semakin berkembang. Padahal Korea bukan negara agraris namun lebih dikenal dengan industrinya. Akhirnya telah terbukti bahwa negara yang memang telah mantp pada sektor pertanian akan lebih mudah mengembangkan sektor lain.

image

Read Full Post »

Masa-masa perang tarif antaroperator menguntungkan user. Meski sudah menjadi anggota Simpatizone, tetep kudu objektif dan kritis terhadap tarif simpati.

Tahu khan promo simpati sms 6 gratis 6 sms… Kelihatannya asyik banget apalagi kalo yang punya bonus sampe ratusan hingga ribuan bonus sms. Rasanya jam 22.00 – 10.00 WIB kirim sms gratisan pake bonus sms. Tapi sebenernya gak. Tetep rugi meski ada bonus sms. Begini perhitungannya:

Sms sesama telkomsel:
Tarif awal: 6 sms x Rp 299 = Rp 1.794  
Tarif real  : Rp 1794 : 12 (plus bonus)= Rp 149.5
Sms lintas operator :
Tarif awal: 6 sms x Rp 350 = Rp 2.100 
Tarif real  : Rp 2100: 12 (plus bonus) = Rp 175
 

Bandingkan dengan tarif “3” yang sms lintas operator cuma Rp 110 dan sesama 3 hanya Rp 55. Bahkan ada promo yang gratis SMS dengan voucer khusus (utk masalah ini belum dibahas dulu).

Tarif murah sms “3” ke sesama operator (Rp 55) ini cuma bisa dikalahkan dengan tarif simpati yang pukul 23.00 – 07.00 (Rp 49). Jadi mending jangan dapat bonus simpati 6 sms, masih tetep mahal kalau dibandingkan dengan waktu yang cuma harganya Rp 49. Meskipun Telkomsel sudah menjalankan keputusan KPPU yang harus menurunkan tarif 15% tetep aja masih maha.

Tapi memang keunggulan simpati (telkomsel) memiliki jaringan yang luas. Beberapa tempat untuk sinyal “3” lemah banget selain itu pelanggan “3” masih dikit.

Read Full Post »