Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘My Mom’ Category

Ibu

Ketika kau harus merasakan sakitnya tiap hari
Apa yang kulakukan untuk meringankannya
Dibalik kesakitanmu
Aku bisa tertawa dengan riang
Dibalik senyummu yang menahan sakit itu
Aku bisa menikmati dunia ini dengan gembira

Dimanakah diriku ketika kau memerlukan aku
Aku ingin selalu didekatmu
Tapi kenapa nasib selalu memisahkan kita
Apakah aku memang tidak boleh berada di dekatmu
Durhakakah aku karena sebetulnya aku sendiri yang memilih jalan nasibku ini

Kini,
Ketika kau telah bersamanya kembali
Apalagi  yang harus kulakukan
Serasa tiada artinya hidup ini
Karena selama ini
Kaulah alasanku untuk melakukan ini semua
Untuk apa kubekerja di tempat yang kata orang perusahaan idaman
Untuk apa lagi kuharus merantau jauh ke negeri orang
Untuk apa kuharus belajar hingga ke negeri cina
Jika semua yang kulakukan tak bisa selalu berada disampingmu
Tak bisa memberikan rasa aman yang kau butuhkan
Apa guna kaulahirkan aku sebagai lelaki bila tak becus menjagamu
Ketika kau merasa ketakutan
Ketika kau membutuhkan ketenangan

Lebih dari 40 hari
Dan kali ini aku sangat merindukanmu
Begitu ingin mendekapmu
Ingin merasakan belaian kasih sayangmu lagi
Ingin mendengarkan suaramu lagi

Tapi kini semua hanya tinggal kenangan
Kuhanya bisa melihat senyummu dari foto
Kuhanya bisa mendengar suaramu dari rintihan sakit malam sebelum kau pergi
Apalagi yang kupunya dari kau sekarang

Kuhanya selalu mendengar
“Kau harus tegar….”
“Kau harus kuat…”
“Memang inilah yang terbaik bagi ibumu…”
Tapi….
Apakah orang yang mengatakan itu semua sudah pernah merasakannya sendiri
Pernakah mereka merasakan perasaan ini

Tuhan memang adil
Dan aku akan tetap percaya Tuhan memang adil
Tapi saat ini sangat berat untuk mengakuinya
Ketika temanku masih memiliki orang tua yang lengkap
Ketika kakak ibuku bermain dengan cucu cucunya

Ibu…
Inilah tulisan pertama yang kubuat sejak itu
Maafkan bila
Aku yang selama ini menasihati untuk tidak iri
Tapi kali ini aku sendiri yang iri
Aku yang selama ini menyarankan untuk berpikir positif
Tapi kali ini aku yang berpikir negatif
Aku yang selama ini untuk yakin dengan Allah
Tapi kali ini aku yang mempertanyakan
Tapi satu kalimat yang bisa kuucapkan
AKU BANGGA MENJADI ANAKMU

PS:
Tulisan ini dibuat ketika benar-benar hatiku sedang melow abiz. Diantara isak tangis  dan tisu-tisu berserakan tapi ada kerinduan yang ingin diucapkan… Jadilah coretan ini. Dan baru kali ini merasakan ingin ngetik tapi tangan gemeteran abiz. Entah apakah ini puncak ke-melow-anku atau adakah puncak-puncak yang lain lagi. Tapi setelah jadi coretan serasa BEBAS. Ada sebuah beban di hati yang tiba-tiba menguap begitu saja.

Read Full Post »

Mom 01: Lebaran Terakhir?

Tidak! Lebaran tahun depan pasti ibuku lebih sehat. Ada rasa putus asa dari ibuku, tapi kesembuhannya berasal dari semangat hidupnya. Tapi setiap ada tamu yang berkunjung mulai sewaktu masuk rumah sakit hingga lebaran kali ini. Pasti ibuku selalu meminta maaf.  Hal yang baik tapi itu bisa saja berarti hal lainnya. Apalagi dari cerita ibuku, sewaktu sebelum masuk rumah sakit. Ibu rasanya melihat eyang putri dan bapak yang sebenarnya sudah tenang di alam kubur.

Tapi lebaran pertama ini, ibuku memang terlihat yang paling drop dibandingkan lebaran sebelumnya. Sudah tidak bisa menjalankan sholat ied meski tempatnya tidak jauh. Setidaknya ada kenangan lucu di lebaran kali ini. Berhubung baru pulang hari sabtu malam, sedangkan lebarannya hari minggunya. bangun pagi jam 5.45!!!! Hampir aja telat sholat ied. Untungnya aja tempat sholat ied dekat.

Yang menyenangkan hari pertama ini adalah semua cucu-cucu alias keponakanku datang semua baik yang dari semarang. Ada Aal-Nina-Gea-Danu, Nidia-Isa, Cani-Bian-Raged… waduh semuanya kumpul lagi semenjak ibuku masuk rumah sakit. Sehari sebelum dikabarkan akan operasi, semua keluarga kumpul bahkan termasuk pakde ku yang “itu”. Wah bener-bener rame deh. Laskar anak kecil naik-turun tangga. Sampe capek njagain. Lucu aja tahu tipikal ponakan lebih dekat. Ada yang komunikatif si Bian, pejuang tangguh si Raged, dll. Lucu aja lihat si Raged, naik turun tangga gak ngomong sama sekali. Dengan gayanya yang terus berjuang hingga titik darah penghabisan dia berusaha mencapai garis finish. Tapi berbeda dengan yang lainnya, lari-lari sambil bersuara, si Rageed hanya diam saja. Baru setelah dia minum, dia langsung ngajak, “Hayo, maen lagi!” sambil menarik tanganku. Waduh diriku sudah gak kuat lagi… hahahahaha

Cerita lainnya adalah jajanan lebaran yang kubawa dari Jakarta, nastar-kastangel-cheese butter… semuanya laris… langsung ludes. Bahkan budeku pulang sambil bawa bekel. Seneng banget ternyata laris juga. Berjanji Insya Allah tahun depan akan bawain kue lebaran untuk kelaurga besarku.

Yang terlucu hari pertama lebaran… Tiap pulang pasti bawaannya pengen bersih-bersih. Termasuk mau bersihkan sebagian spot kamar mandi di daerah tempat sikat gigi. Tanpa ba bi bu lagi sambil mandi sekaligus bersihkan tempat sikat gigi sekaligus buang sikat gigi yang sudah jelek-jelek. Dan juga bereskan layout sampo-pasta gigi-pembersih wajah. Selesai sudahlah diriku mandi dan begitu pula bebersihnya. Lha koq rada malaman, ibu keluar kamar mandi sambil ngomong, “Sikat gigiku mana?” Deg!!!! Ternyata sikat gigi ibuku ikut terbuang. Waduh gawat nih. “Bu, kuambilkan lagi ya sikat gigi yang sudah kubuang tadi” Kreseknya belum dibuang ke tempat sampah sih.. hehehehhehe… Tapi untunglah mbakku ada stok sikat gigi. 🙂

Read Full Post »

Just For My Mom

Susah mengungkapkan dengan kata-kata. Tapi semenjak ibu masuk rumah sakit dan ketahuan kalau kanker payudaranya telah menjalar ke liver… semuanya begitu gelap…

Aku masih ingat momen ketika ibu menelpon diriku mengabari bahwa dugaan ibu memang benar kalo terkena kanker payudara. Tak hanya itu tapi juga dengan disertai kabar stadium 3C. Sore itu aku di tempat fotokopi di pinggir jalan. Meski pun rame, tapi saat itu aku mendengarnya dengan jelas. Aku bingung waktu itu harus bagaimana. Apa yang harus kulakukan bila ibu ku meninggal sewaktu aku masih kuliah? Siapa yang akan menanggung biaya kuliahku dan kakakku? Aku tak mau mendapat bantuan dari siapapun karena aku dididik untuk selalu berdiri dengan kaki sendiri. Tapi aku belum yakin dengan kekuatanku sendiri. Pikiran itu berkecamuk.

Untunglah di tempat fotokopi itu dekat dengan masjid dan aku pun belum sholat ashar. Kutinggalkan fotokopi itu sebentar. Saatnya untuk berbicara denganNya. Aku benar-benar menangis… mengapa perjalanan hidupku harus seperti ini? Bapakku meninggal ketika kelas 2 SMP dan saat ini ibuku pun akan menyusul bapakku. Mengapa kawan-kawanku masih merasakan semua kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tapi aku yakin bahwa semuanya ada hikmah dan ini perjalananku menuju manusia sejati. Aku pun menangis sejadi-jadinya karena sempat berjanji ketika bapakku meninggal. Kematian siapapun setelah kematian bapakku, aku tak kan menangis. Jadi biarkanlah aku menangis sebelum tiba saatnya namun tetap tersenyum di hadapannya.

Kini 20-09-2009, lebaran pertama setelah ibuku didiagnosa kanker liver juga. Aku terpukul. Ibuku tak segesit dulu lagi. Ibuku tak secerah dulu lagi. Meski ibuku terlihat tegar dan bersemangat tapi di dalamnya dia menahan kesakitan yang tiada tara. Akankah ibuku dapat bersama untuk lebaran tahun depan?

Aku ingin menulis semua kenanganku bersama ibuku mulai saat ini. Aku ingin selalu terkenang semuanya mulai dari ibuku bangun pagi hingga tidur. Aku tinggal jauh dari ibuku dan kebersamaanku sangat jarang. Jadi kesempatan lebaran dan cuti ini sangat tepat untuk mulai mengingatnya.

Aku takut lupa kenangan dengan ibuku. Ibuku sering terdiam sambil menahan rasa sakitnya dan aku ingin membuatnya tak merasakan rasa sakitnya dengan senyuman dan tawa. Aku akan mencatat setiap senyum dan tawanya. Meski nantinya kalau hal itu terjadi dan aku tak pernah memimpikannya, masih ada catatan kenangan dengan ibuku. Aku tak ingin hal sama terjadi seperti bapakku. Aku tahu pengorbanan bapakku sangat besar, namun semuanya begitu hampa dan diriku tak pernah memimpikannya.

==Hanya dengan tulisan aku bisa mengungkapkan semuanya. Beban ini terlalu berat namun aku tak dapat menceritakannya karena aku benci dengan semua rasa belas kasihan. Aku tak mau melihat raut muka orang yang memandang dengan kasihan.==

Read Full Post »